Blogger Widgets

Saturday, 29 September 2012

Dituding Plagiat, LPPM Unsoed Dilaporkan Ke Polisi


PURWOKERTO - Seorang Sineas Purbalingga, Bowo Leksono melaporkan LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Unsoed terkait film Ada Gula Semut pada Senin (24/ 9). Film  yang diproduserinya ini  menampilkan Gula semut sebagai panganan lokal Banyumas berbahan baku kelapa dan gula.Dia menuding, LPPM Unsoed telah melakukan plagiat atas film yang diproduserinya karena merubah film hasil karyanya dan mencantumkan logo Unsoed serta nama LPPM tanpa izin dan sepengetahuannya selaku produser.

Sebagai barang bukti Bowo, membawa video film Ada Gula semut. Bowo menambahkan selain judul, isi bertambah karena disisipi tambahan yang menampilkan nama-nama orang yang bukan produsernya. Durasi film dari 20 menit juga bertambah menjadi 29 menit. Judul yang semula Ada Gula Semut diubah menjadi Teknologi dan Prospek Bisnis Bisnis Gula Semut.

Film Ada Gula Semut sendiri menceritakan pengrajin gula di daerah Pageraji, Cilongok Banyumas.

Menanggapi laporan Bowo, pihak Unsoed yang diwakili Kepala Bagian Humas Unsoed, Endang Estanti menyampaikan kalau dalam film tersebut Bowo Leksono pun tidak mencantumkan penemu gula semut. Sementara, Ketua LPPM Unsoed Totok Agung yang ditemui dalam Rapat Senat terbuka Unsoed Selasa (25/ 9) di Gedung Soemardjito menyampaikan bahwa masih belum tahu tuntutan apa yang akan dilayangkan kepada LPPM.

Totok menyampaikan dalam grup diskusi dosen Unsoed sudah dibicarakan masalah pengambilan karya orang lain. Totok mengira masalah ini sudah selesai di dalam diskusi tersebut namun ternyata sampai ke tangan polisi. Dalam grup diskusi tersebut Totok tidak memberikan komentar. Lelaki yang juga dosen Fakultas Pertanian Unsoed ini merasa masalah tersebut adalah masalah pribadi. Dia tidak mengira akan menghangat setelah dilaporkan ke polisi.

Secara pribadi, Totok merasa hal ini sebagai bentuk kepedualian masyarakat. Totok mengatakan bahwa Bowo dan Mustaufik adalah kawan akarabnya. Keduanya juga merupakan alumni Unsoed. Hal ini memeperlihatkan kinerja LPPM Unsoed harus prima. Tidak boleh ada sesuatu yang tercela. LPPM Unsoed jangan sampai melakukan hal-hal yang terkait pelanggaran hukum.

"Saya akan meluruskan sedikit masalah ini, karena tuntutan ini dirasa tidak tepat diajukan ke LPPM Unsoed," tambahnya.

Totok menjelaskan bahwa di Unsoed banyak komunitas. Ada gowes sepeda yang diikuti mahasiswa, karyawan dan dosen. Ada pula Lensa Soedirman merupakan grup dosen Unsoed. Pencinta Gula Semut atau yang disebut Gula Semut Center ini merupakan salah satu komunitas di Unsoed. Secara struktural tidak ada SK dari Rektor ataupun LPPM. Hanya saja orang yang terlibat di dalamnya ada dari LPPM. "Secara struktural bukan bagian dari universitas atau LPPM," tegasnya.

"Kita ibaratkan komunitas gowes sepeda Unsoed terlibat kecelakaan misalnya menabrak orang. Namun apakah orang ini menuntut ke Unsoed karena komunitas gowes sepeda menggunakan logo Unsoed. Tuntutan ini dirasa akan kurang pas," katanya.

"LPPM memiliki 11 pusat kajian dan semua ada SKnya. Mereka dari komunitas ini merupakan keluarga Unsoed. Tapi secara organisasi tidak ada SK untuk Pusat Kajian Gula Semut," tambahnya. Totok juga tidak menampik bahwa dosen dibolehkan untuk memuat pusat kajian sesuai dengan minatnya masing-masing.

Untuk Mustaufik yang diperkarakan di sini memang berasal dari LPPM. Mustaufik menduduki jabatan Sekretaris Pusat Kependudukan dan Pemberdayaan Masyarakat. "Yang membuat LPPM dianggap bertanggung jawab karena lambang LPPM yang terlihat di awal film yang sudah ditambah oleh Mustaufik," terangnya.

Dengan tenang Totok mengatakan bahwa dipasangnya lambang LPPM bukan berarti hal ini menjadi tanggung jawab LPPM. Secara struktural secara tegas, Totok mengatakan bahwa mereka bukan di bawah universitas atau LPPM.

"Jadi gini kalau komunitas di Unsoed dapat prestasi kan yang dapat ya komunitasnya bukan Unsoed. Begitu pula jika melakukan kesalahan dari komunitas yang harus bertanggung jawab mereka sendiri," terangnya.

Sementara itu, sebagai Ketua LPPM Unsoed Totok mengatakan bahwa substansi dari persoalan ini ada kaitannya dengan program pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan pengabdian ini bukanlah kegiatan komersil. Terkait dengan dengan perubahan judul menjadi Teknologi dan Prospek Bisnis Bisnis Gula Semut. Prospek bisnis menunjukkan bahwa produk lokal gula semut ini memiliki nilai ekonomis yang bisa dikembangkan masyarakat. "Bukan berarti yang bersangkutan berbisnis melalui film ini. Itu tidak," tambahnya.

Totok mengatakan bahwa dia belum melihat adanya pembajakan dan pelanggaran. "Saya menduga film ini belum dipatenkan atau memiliki HAKI. Dan kalaupun ada pelanggarakan kode etik lebih ke proses perijinan," tuturnya.

Totok menambahkan bahwa seharusnya dalam menggunakan karya ini meminta ijin terlebih dulu. Meskipun ini milik atau karya bersama. "Ini kebiasaan yang lazim dalam kegiatan ilmiah," tandasnya. (Galih)

0 comments: